Search
  • Clev Indonesia

Pengembangan SDM dan Fenomena Global Talent Crunch


Kegiatan pengembangan SDM di perusahaan dapat membantu pengembangan dan pertumbuhan karyawan. Sebagai aset paling berharga yang dimiliki perusahaan, sudah seharusnya pihak perusahaan menghargai kerja keras mereka supaya mereka bisa termotivasi, dan akhirnya loyal dengan perusahaan.


Lantas bagaimana kita bisa memberikan apresiasi dan menghargai orang-orang yang telah berusaha untuk memenuhi tujuan perusahaan? Memberi bonus? Kenaikan gaji? Ya, bisa saja. Uang mungkin bisa menjadi salah satu faktor pendorong motivasi dan loyalitas seorang karyawan, tapi tidak selalu.


Malah, ada perlunya perusahaan memberi apresiasi dengan cara menyediakan karyawan kesempatan untuk mengembangkan diri, membekali mereka dengan kompetensi yang dibutuhkan saat ini dan di masa depan. Mereka adalah seorang individu, yang perlu tumbuh seiring berjalannya waktu. Seseorang tidak bisa menggunakan skill yang itu-itu saja untuk menyelesaikan tugas yang beragam. Seorang individu perlu mengikuti perkembangan terbaru untuk bertahan dalam persaingan yang ketat.


Baca juga: Learning and Skills at Work 2020: Esensi Penting Pelatihan Karyawan bagi Perusahaan


Selain itu, teknologi ke depan akan terus berubah, malah perubahannya semakin cepat. Teknologi yang ada sekarang pada akhirnya akan usang, ketinggalan zaman, tidak efisien dan kemudian ditinggalkan. Perubahan teknologi berarti juga menandakan adanya perubahan skill, kompetensi, dan cara kerja. Demand dari suatu posisi pekerjaan juga akan berubah. Kita pasti tidak mau karyawan kita susah beradaptasi dengan teknologi baru, kan? Karena hal ini hanya akan merugikan perusahaan.


Pernah bersinggungan dengan istilah global talent crunch? Baik di artikel yang Anda baca, video yang Anda tonton, seminar/webinar yang Anda hadiri, atau bahkan istilah ini sering dibicarakan di lingkungan kerja Anda?


Global talent crunch adalah fenomena dimana demand untuk pekerjaan yang membutuhkan skill tertentu lebih tinggi dibanding supply. Ya, ini artinya tidak ada cukup manusia yang kompeten untuk mengisi suatu pekerjaan. Studi terbaru dari Korn Ferry menunjukkan bahwa masalah terbesar yang dihadapi dunia profesional bukanlah robot yang mengambil alih semua pekerjaan, tetapi kekhawatiran bahwa tidak cukup manusia terampil untuk mengambilnya. Dalam studi tersebut juga menemukan bahwa pada tahun 2030, lebih dari 85 juta pekerjaan tidak dapat diisi karena tidak ada cukup orang yang terampil untuk mengisinya.


Survei dari Gartner menunjukkan bahwa kurangnya SDM terampil kini menjadi masalah yang mulai muncul di banyak perusahaan di dunia. Apa jadinya jika fenomena ini benar-benar terjadi dan menyerang perusahaan kita? Kita boleh jadi akan sangat kesulitan menemukan talenta-talenta unggul yang bisa mendorong keberlanjutan pertumbuhan perusahaan.


Maka untuk mengantisipasi terjadinya talent shortage di perusahaan, kita harus mulai memperhatikan pengembangan SDM sedini mungkin. Memberikan karyawan pelatihan dan pembelajaran yang berfokus pada pengembangan masa depan, menyiapkan mereka agar bisa mandiri dalam mengambil solusi untuk menghadapi masalah-masalah yang mungkin terjadi, menyiapkan mereka untuk posisi dan jenjang yang lebih tinggi. Kita juga bisa, misalnya, bekerja sama dengan perguruan tinggi, akademi dan sekolah vokasi dalam melatih para mahasiswa, mempersiapkan mereka dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri ke depan.


Berinvestasi pada pengembangan SDM memang tidak bisa menguntungkan dalam jangka pendek, tetapi baru bisa dirasakan pada jangka panjang. Buat karyawan merasa dihargai dengan membantu pengembangan kompetensi profesional mereka, maka mereka akan memberikan yang terbaik untuk perusahaan.


24 views
  • LinkedIn
  • Instagram

Address : Jl. Dr. Ir. H. Soekarno No.487  Rungkut, Surabaya | Phone : (031) 8709625

© Copyright 2020 Lanius Inovasi Indonesia, Inc. All right reserved. Various trademarks held by respective owners