Search
  • Clev Indonesia

Memangkas Skill Mismatch Antara Perusahaan dan Institusi Pendidikan



Globalisasi, digitasi, urbanisasi pergeseran demografi serta menjamurnya pekerjaan dalam bentuk informal dan virtual telah mengubah model kerja manusia. Meski kita sudah melihat dan mengalami langsung bagaimana fenomena ini terjadi, tapi sayangnya sistem pendidikan kita masih belum bisa menyesuaikan perubahan.


Sistem pendidikan kita masih mengacu pada industrialisasi ketiga: pendidikan yang menganggap semua orang harus memiliki kemampuan sama, dan penguasaan satu skill untuk pekerjaan yang dilakukan seumur hidup. Sistem seperti ini sudah tidak berguna di era perkembangan teknologi seperti sekarang. Jika tidak segera diubah, hal ini akan merugikan pencari kerja dan pemberi kerja karena akan ada skill mismatch, ketidakcocokan antara kemampuan yang dimiliki pencari kerja dengan kemampuan yang sebenarnya dibutuhkan perusahaan.


Baca juga: Pengembangan SDM dan Fenomena Global Talent Crunch


Masalah ini terjadi salah satunya akibat dari tidak adanya komunikasi dan keselarasan antara perusahaan dan otoritas pendidikan. Ada kesenjangan antara tujuan sistem pendidikan dan kebutuhan bisnis. Jika otoritas pendidikan tidak update dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan di dunia industri, sistem pendidikan kita akan terus mempersiapkan orang-orang yang kompetensinya akan ketinggalan zaman. Perusahaan akan kesulitan untuk mempekerjakan orang-orang dengan skill yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Sehingga apabila mereka mempekerjakan seseorang, mereka harus mengeluarkan uang untuk melatih ulang orang tersebut. Para karyawan juga akan rugi waktu dan biaya karena apa yang mereka pelajari selama ini tidak sesuai dengan kebutuhan industri.


Individu, pemerintah, perusahaan dan institusi pendidikan, semua memiliki peran dalam memangkas skill mismatch, membuat kontrak sosial baru yang fundamental dengan pendekatan human-sentris dan merangkul keunikan/perbedaan. Ini berarti menciptakan kondisi yang memungkinkan karyawan untuk memilih di mana dan bagaimana mereka menggunakan waktu dan keterampilan mereka, serta di mana harus memfokuskan pelatihan dan pengembangan diri mereka. Menciptakan kondisi yang memungkinkan untuk karyawan memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang akan membantu mereka beradaptasi dengan perubahan permintaan pemberi kerja.


Baca juga: Learning and Skills at Work 2020: Esensi Penting Pelatihan Karyawan bagi Perusahaan


Untuk mewujudkannya, individu, pemerintah, perusahaan dan institusi pendidikan harus melakukan peran masing-masing. Setiap individu harus bertanggung jawab atas pengembangan skill profesional mereka sendiri sehingga mereka dapat mengembangkan potensi penuh mereka dan memilih jalur karir sesuai yang diinginkan. Institusi pendidikan harus bertindak sebagai mediator antara perusahaan, pemerintah, dan individu. Institusi pendidikan harus membekali setiap individu dengan amunisi untuk pengembangan diri dan menyediakan pelatihan untuk memenuhi permintaan skill dari pemberi kerja yang terus berubah Perusahaan harus memilih karyawan berdasarkan keterampilan dan value mereka dan harus memberikan kesempatan untuk melakukan realisasi diri di tempat kerja. Perusahaan harus mempertimbangkan nilai-nilai individu sebagai keunggulan kompetitif yang menopang pertumbuhan pribadi dan profesional mereka. Pemerintah harus menjamin akses yang setara, dan terbuka kepada setiap orang untuk melakukan pengembangan diri dan memperoleh kesempatan kerja.



Referensi:

Boston Consulting Group


46 views
  • LinkedIn
  • Instagram

Address : Jl. Dr. Ir. H. Soekarno No.487  Rungkut, Surabaya | Phone : (031) 8709625

© Copyright 2020 Lanius Inovasi Indonesia, Inc. All right reserved. Various trademarks held by respective owners